hening...

Altruism, warm glow, and confusion | January 12, 2011

Nama mata kuliahnya fiscal theory and practice. Dan tadi siang gw ikutan eksperimen kelas tentang apa itu yang disebut public goods. Menarik. Ini bukan tentang ekonomi murni dimana kita mencari net profit ( gain harus lebih besar dari loss) tapi bagaimana tiap individu manusia merespon terhadap suatu keadaan.

Eksperimen nya ialah : Setiap satu putaran, tiap mahasiswa diberi 4 buah kartu remi, dua merah, dua item. Lalu, dosen akan meminta kembali dua buah kartu ke tiap mahasiswa. Dosen menjanjikan, setiap kartu merah yang diberikan kepada dosen akan dikonversi sebagai 1 ekstra credit untuk seluruh mahasiswa di kelas itu pada mata kuliah ini, sebaliknya setiap kartu merah yang anda tahan akan bernilai 4 ekstra credit untuk diri anda sendiri. Dan jumlah peserta kuliah kami tadi ialah 21 orang. Oh ya.. dalam memberikan kartu ke dosen, semua peserta kuliah dilarang berdiskusi cum bersekongkol.

Hasilnya, kartu merah yang didapat dosen :

R1 : 20 kartu merah.

R2 : 11 kartu merah.

R3 : 8 kartu merah.

dan pada round ke-4, kelas dibebaskan untuk berdiskusi dan bersekongkol. Hasilnya

R4 : 42 kartu merah. For the greater good, semua orang, berdasarkan kesepakatan bersama, ‘dipaksa’ untuk memberikan seluruh kartu merahnya ke dosen, ga boleh ada yang oportunis, toh benefitnya juga balik lagi ke mahasiswa, bukan? Lebih besar pula (walaupun bukan hasil maksimum yang bisa didapat oleh seorang mahasiswa).

Lets analyze, nilai ekstra credit minimum tiap orang yang didapet ialah 81 (20+11+8+42) dan maksimum 105 (81 + 3 round x 2kartu merah x 4 credits). Makin dikit ekstra credit yang didapat, berarti tu orang solider, mau bagi2 buat orang lain, tapi kalo makin ekstra credit yang didapet berarti tu orang opportunis sejati. Ato biasa disebut juga dengan free-rider. ‘toh gua juga dapet extra credit dari sumbangan orang lain kok walopun ga nyumbang, ngapain juga gw kontribusi, mending gw tahan buat sendiri, lebih pasti.’

Dang! This is what happens to the public goods. Coba deh disuruh urunan buat benerin jalan kompleks, pasti susahnya setengah modar, kalo udah amat-sangat-rusak baru deh semuanya mau urunan. Itu baru di level kompleks, gimana kalo buat jalan negara. Makanya dari situlah, Pemerintah melalui kebijakan perpajakan nya, ‘memaksa’ masyarakatnya urunan buat bangun2 public goods itu (jalan, jembatan, keamanan negara, dsb).

Trus apa hubungannya ama judul yang gw tulis. And the explanation begin. Memang, kecenderungannya manusia itu kalo untung dimakan sendiri, tapi kalo rugi bareng2 atau bahkan lo aja sana. ibaratnya, lo senang gw senang, lo susah gw lebi senang . Tapiii.. ga semua manusia gitu kok. Tu buktinya eksperimen tadi, masi ada yang mau kontribusi walopun kecenderungannya menurun (R1,R2, dan R3). Ada 3 alasannya :

1. Confusion. Peserta kuliah bingung (kalo ga mo disebut bego) gamenya kaya gimana jadi ya asal nyumbang aja. Wakakaka…

2. Warm glow. Kalo ini nyumbang lebih karena sensasi dari nyumbang itu sendiri memberi kesenangan pada diri sendiri. Ga perduli sama impactnya sama orang lain. Mungkin sebelas dua belas sama pamer/riya’ atau kalo ga mo pamer ya seneng aja sama nyumbang berasa gimanaaaa gitu sama diri sendiri (sedikit narsis dan PD berlebih mungkin).

3. Altruism. Nah kalo ini yang ini nyumbang karena ikhlas. Senang berbagi, sama yang seperti ajaran kemanusiaan/agama apapun ajarkan. Being benevolence. Lo senang gw ikut senang, lo susah gw pengen bantu. We are at your service. Kita ‘berkewajiban’ mbantu orang lain, menguntungkan orang lain. Model2 altruism gini mesti lebih digalakkan nih. Tapi ya tetep ada lah yang harus disisain buat diri sendiri dan keluarga. Soalnya seinget gw di cerita para rasul,  baginda Rasulullah SAW pernah ngingetin sahabat nabi gara2 sang sahabat mau mensedekahkan seluruh hartanya. kira2 begini lah, ‘ kalo semua harta mau kamu sedekahkan, apa yang akan kamu tinggalkan buat anak istri kamu.’  Dang! Another point.

‘Kamu tau apa itu kebahagiaan? Sesuatu yang kamu berikan namun nilainya tidak pernah akan berkurang.’

p.s : ohya.. di akhir kuliah, tentu aja janji ekstra credit itu hanya lah akal2an sang dosen. Kalo ngga di kasi reward gini, maka eksperimentnya dijamin gagal. Lagi2 manusia, stick and carrot rules.


3 Comments »

  1. ^__^ bagus dit! gw gak tau tuh kapan terjadi warm glow atau altruism dalam hidup gw. saat ini lagih menggalangkan altruism dalam diri gw.:)

    Comment by Utie — January 18, 2011 @ 7:16 am

    • betul tie.. abis warm glow sama altruism bedanya tipis banget.. lagian siapa yang tau niatnya orang nyumbang selain dia sendiri sama Yang Di Atas.

      Comment by aditz86 — January 18, 2011 @ 8:45 am

  2. ini menurut gw yah dit. menuru gw, semakin kita dewasa insting kita akan dapat dengan sangat mudah membedakan riya/non riya. perasaan manusia ga akan pernah bohong. kalo soal curiga siy, biasa aje, bisa aja kita nilai seseorang itu masup gol mana. ada tekniknya di buku blink. namanya thin spicing, menilai orang dari potongan-potongan kehidupan/kejadian acak yang terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha ikhlas, lapang dan tanpa pamrih, tapi gak lebay.

    Comment by Utie — January 19, 2011 @ 12:45 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: