hening...

May 17, 2011
Leave a Comment

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. (3:139)

Advertisements

Posted in serious thing

Cin(T)a

March 24, 2011
Leave a Comment

I’ve just watched this movie. So inspiring. Totally agree that we should somehow more tolerance to others, no matter what they backgrounds are.

May the peace always be with us.

But, since i’m working on public sector, the most memorable quote would be this one :

Cina : Kau disubsidi pemerintah sekolah disini buat bantuin pemerintah mikir. Kalau kau cuma bisa nyalah – nyalahin pemerintah, buat apa kau diluluskan. Republik ini udah kebanyakan sarjana nyinyir.


bermain!

January 24, 2011
3 Comments

Disclaimer : Artikel ini berbau agama. Mohon jangan dibaca bagi orang yang berpikiran sempit. ­čÖé

Tadi siang gw tiba2 keinget artikel di koran kompas yang bilang bahwa manusia pada dasarnya adalah ‘mahluk bermain’. Nah iseng2 lah gw ubek2 internet sampe pada salah satu artikel kompasiana.

Homo ludens.

Istilah ini dipopulerin oleh prof Huizinga dari bukunya Homo Ludens; a Study of Play Element in Culture. Manusia pada dasarnya sebagai ‘mahluk bermain’. Yay, bermain!

Nah yang seru itu pas gw baca lebi lanjut artikel kompasiana itu. Di Al Quran ternyata di singgung juga masalah ini (menurut artikel itu). Monggo dibuka┬á : Al An’am:32,70; Al A’raf:51, Al ‘Ankabut:64; Muhammad:36. Untuk lebih yakinnya, silahkan buka Al Quran beserta terjemahan masing2 deh.

Err.. gw si ngga ada kapabilitas untuk jadi ahli tafsir. Tapi dari yang gw tangkep ialah kehidupan dunia ini  adalah permainan dan senda gurau.Tapi jangan sekali kali menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau.

Permainan itu butuh taktik jo.., ada aturannya, ga boleh curang, dan yang paling penting ialah unsur fun nya, bikin kita happy. Opcros lah… memainkan permainan itu harus serius, ga boleh main main.

Gw ga tau asli bahasa Al Quran nya apa itu jadi senda gurau. Tapi mungkin yang bisa gw tangkep ialah bercanda dikit ga apa apa lah bukankah senyum itu ibadah┬á ­čÖé tapi ya jangan sampe bercandanya ‘ih-parah-banget- lo-becandanya…’

Cukup sudah ‘pencarian’ hari ini moga2 saya tidak sesat dan tunjukan jalan-Mu ya Allah.

Yak keisengan ini berhasil membuat saya membuka lagi Al Quran yang udah lama ga dibuka itu, moga2 berhasil juga mempengaruhi kalian. Ehehehe…

Muhammad : 36
Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta hartamu.


Posted in life, serious thing

Altruism, warm glow, and confusion

January 12, 2011
3 Comments

Nama mata kuliahnya fiscal theory and practice. Dan tadi siang gw ikutan eksperimen kelas tentang apa itu yang disebut public goods. Menarik. Ini bukan tentang ekonomi murni dimana kita mencari net profit ( gain harus lebih besar dari loss) tapi bagaimana tiap individu manusia merespon terhadap suatu keadaan.

Eksperimen nya ialah : Setiap satu putaran, tiap mahasiswa diberi 4 buah kartu remi, dua merah, dua item. Lalu, dosen akan meminta kembali dua buah kartu ke tiap mahasiswa. Dosen menjanjikan, setiap kartu merah yang diberikan kepada dosen akan dikonversi sebagai 1 ekstra credit untuk seluruh mahasiswa di kelas itu pada mata kuliah ini, sebaliknya setiap kartu merah yang anda tahan akan bernilai 4 ekstra credit untuk diri anda sendiri. Dan jumlah peserta kuliah kami tadi ialah 21 orang. Oh ya.. dalam memberikan kartu ke dosen, semua peserta kuliah dilarang berdiskusi cum bersekongkol.

Hasilnya, kartu merah yang didapat dosen :

R1 : 20 kartu merah.

R2 : 11 kartu merah.

R3 : 8 kartu merah.

dan pada round ke-4, kelas dibebaskan untuk berdiskusi dan bersekongkol. Hasilnya

R4 : 42 kartu merah. For the greater good, semua orang, berdasarkan kesepakatan bersama, ‘dipaksa’ untuk memberikan seluruh kartu merahnya ke dosen, ga boleh ada yang oportunis, toh benefitnya juga balik lagi ke mahasiswa, bukan? Lebih besar pula (walaupun bukan hasil maksimum yang bisa didapat oleh seorang mahasiswa).

Lets analyze, nilai ekstra credit minimum tiap orang yang didapet ialah 81 (20+11+8+42) dan maksimum 105 (81 + 3 round x 2kartu merah x 4 credits). Makin dikit ekstra credit yang didapat, berarti tu orang solider, mau bagi2 buat orang lain, tapi kalo makin ekstra credit yang didapet berarti tu orang opportunis sejati. Ato biasa disebut juga dengan free-rider. ‘toh gua juga dapet extra credit dari sumbangan orang lain kok walopun ga nyumbang, ngapain juga gw kontribusi, mending gw tahan buat sendiri, lebih pasti.’

Dang! This is what happens to the public goods. Coba deh disuruh urunan buat benerin jalan kompleks, pasti susahnya setengah modar, kalo udah amat-sangat-rusak baru deh semuanya mau urunan. Itu baru di level kompleks, gimana kalo buat jalan negara. Makanya dari situlah, Pemerintah melalui kebijakan perpajakan nya, ‘memaksa’ masyarakatnya urunan buat bangun2 public goods itu (jalan, jembatan, keamanan negara, dsb).

Trus apa hubungannya ama judul yang gw tulis. And the explanation begin. Memang, kecenderungannya manusia itu kalo untung dimakan sendiri, tapi kalo rugi bareng2 atau bahkan lo aja sana. ibaratnya, lo senang gw senang, lo susah gw lebi senang . Tapiii.. ga semua manusia gitu kok. Tu buktinya eksperimen tadi, masi ada yang mau kontribusi walopun kecenderungannya menurun (R1,R2, dan R3). Ada 3 alasannya :

1. Confusion. Peserta kuliah bingung (kalo ga mo disebut bego) gamenya kaya gimana jadi ya asal nyumbang aja. Wakakaka…

2. Warm glow. Kalo ini nyumbang lebih karena sensasi dari nyumbang itu sendiri memberi kesenangan pada diri sendiri. Ga perduli sama impactnya sama orang lain. Mungkin sebelas dua belas sama pamer/riya’ atau kalo ga mo pamer ya seneng aja sama nyumbang berasa gimanaaaa gitu sama diri sendiri (sedikit narsis dan PD berlebih mungkin).

3. Altruism. Nah kalo ini yang ini nyumbang karena ikhlas. Senang berbagi, sama yang seperti ajaran kemanusiaan/agama apapun ajarkan. Being benevolence. Lo senang gw ikut senang, lo susah gw pengen bantu. We are at your service. Kita ‘berkewajiban’ mbantu orang lain, menguntungkan orang lain. Model2 altruism gini mesti lebih digalakkan nih. Tapi ya tetep ada lah yang harus disisain buat diri sendiri dan keluarga. Soalnya seinget gw di cerita para rasul,┬á baginda Rasulullah SAW pernah ngingetin sahabat nabi gara2 sang sahabat mau mensedekahkan seluruh hartanya. kira2 begini lah, ‘ kalo semua harta mau kamu sedekahkan, apa yang akan kamu tinggalkan buat anak istri kamu.’┬á Dang! Another point.

‘Kamu tau apa itu kebahagiaan? Sesuatu yang kamu berikan namun nilainya tidak pernah akan berkurang.’

p.s : ohya.. di akhir kuliah, tentu aja janji ekstra credit itu hanya lah akal2an sang dosen. Kalo ngga di kasi reward gini, maka eksperimentnya dijamin gagal. Lagi2 manusia, stick and carrot rules.


Where has it gone?

August 31, 2010
1 Comment

When i watched series Flash forward, one of the episodes told about sufi parable. It is about the source light of the candle. I googled it and found it. It is about Disciplehood.

When the great Sufi mystic, Hasan, was dying, somebody asked “Hasan, who was your master?”

He said, “I had thousands of masters. If I just relate their names it will take months, years and it is too late. But three masters I will certainly tell you about.

One was a thief. Once I got lost in the desert, and when I reached a village it was very late, everything was closed. But at last I found one man who was trying to make a hole in t he wall of a house. I asked him where I could stay and he said ‘At this time of night it will be difficult, but you can say with me – if you can stay with a thief’

And the man was so beautiful. I stayed for one month! And each night he would say to me, ‘Now I am going to my work. You rest, you pray.’ When he came back I would ask ‘Could you get anything?’ He would say, ‘Not tonight. But tomorrow I will try again, God willing.’ He was never in a state of hopelessness, he was always happy.

When I was meditating and meditating for years on end and nothing was happening, many times the moment came when I was so desperate, so hopeless, that I thought to stop all this nonsense. And suddenly I would remember the thief who would say every night, ‘God willing, tomorrow it is going to happen.’

And my second master was a dog. I was going to the river, thirsty and a dog came. He was also thirsty. He looked into the river, he saw another dog there — his own image — and became afraid. He would bard and run away, but his thirst was so much that he would come back. Finally, despite his fear, he just jumped into the water, and the image disappeared. And I knew that a message had come to me from God: one has to jump in spite of all fears.

And the third master was a small child. I entered a town and a child was carrying a lit candle. he was going to the mosque to put the candle there.

‘Just joking,’ I asked the boy, ‘Have you lit the candle yourself?’ He said, ‘Yes sir.’ And I asked, ‘There was a moment when the candle was unlit, then there was a moment when the candle was lit. Can you show me the source from which the light came?’

And the boy laughed, blew out the candle, and said, ‘Now you have seen the light going. Where has it gone? You will tell me!’

My ego was shattered, my whole knowledge was shattered. And that moment I felt my own stupidity. Since then I dropped all my knowledgeability.

It is true that I had no master. That does not mean that I was not a disciple — I accepted the whole existence as my master. My Disciplehood was a greater involvement than yours is. I trusted the clouds, the trees. I trusted existence as such. I had no master because I had millions of masters I learned from every possible source. To be a disciple is a must on the path. What does it mean to be a disciple? It means to be able to learn. to be available to learn to be vulnerable to existence. With a master you start learning to learn.

The master is a swimming pool where you can learn how to swim. Once you have learned, all the oceans are yours.”

The thief, the dog, and the boy…

Do you get the point?


Next Page »